tembicontemporary.com
 
New Sculptures from Jogja
Sculpture Survey Exhibition

Satu hal sangat menarik dari gejala perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia saat ini adalah maraknya media tiga dimensional di dalam praktek seni rupa. Bila awal tahun 90-an adalah tren instalasi yang mendominasi event-event seni rupa, maka era sekarang adalah era tiga dimensi, ketika karya-karya patung, objek (dan juga instalasi) menjadi primadonanya. Tidak mengherankan apabila banyak seniman yang sebelumnya lebih dikenal dengan karya lukisan, grafis, atau karya dua dimensi lain kemudian muncul dengan karya-karya objek dan patung.

Di antara perupa tersebut menyadari benar potensi media tigadimensi sehingga menemukan bentuk ungkapan yang begitu kuat pada karya-karya patung atau objeknya, yang tentu saja tidak dapat dicapai oleh lukisan atau media duadimensi lainnya, meskipun ada juga pelukis yang sekedar memindahkan ide-ide lukisannya ke dalam karya-karya patung tanpa penghayatan yang sebenarnya pada media tigadimensi. Bahkan, seringkali keterlibatan seniman di dalam proses transformasi tersebut hampir tidak ada, karena proses pengerjaannya sepenuhnya dilakukan oleh seorang artisan. Padahal, proses pemindahan media seperti itu bukanlah sekedar persoalan dua dan tiga dimensi. Transformasi dari ilusi menjadi sebuah benda nyata merupakan tahapan proses yang krusial, karena banyak persoalan yang kemudian harus menjadi pertimbangan, di antaranya adalah persoalan material.

Material adalah unsur utama di dalam seni patung, selain unsur bentuk dan ruang. Oleh karena itu patung dianggap sebagai salah satu bentuk seni tertua karena berkaitan erat dengan naluri primitif manusia untuk mengenali benda-benda dan realitas di sekelilingnya. Di dalam praktek seni rupa, unsur material inilah yang bisa membedakan antara karya seni patung dengan karya tigadimensi yang lain, seperti objek.

Di tengah maraknya kemunculan berbagai media tigadimensional dewasa ini, praktek penciptaan seni patung di Jogja menunjukkan gejala perkembangan yang cukup menarik, khususnya dari karya-karya pematung muda. Apabila pada masa sebelumnya perkembangannya ditandai dengan eksplorasi berbagai kemungkinan bentuk serta tema, maka seni patung dewasa ini lebih tertarik melakukan eksplorasi pada medianya, terutama dengan pencarian berbagai material alternatif. Penggunaan bahan-bahan yang tidak lazim digunakan di dalam karya patung, benda-benda sehari-hari, hingga barang-barang bekas pakai, nampaknya menjadi kecenderungan di kalangan perupa-perupa muda ini.

Eksplorasi material di dalam seni patung yang dilakukan oleh para pematung dalam pameran ini nampak didasari oleh kesadaran akan berbagai potensi material di dalam karya tigadimensi, khususnya patung. Baik potensi fisik melalui berbagai teknik pengolahan maupun potensi representatif, dengan memanfaatkan kemungkinan pemaknaan atas material-material tertentu. Dalam hal ini material kemudian sekaligus menjadi idiom yang membangun narasinya sendiri.

Pada karya-karya I Wayan Upadana dan beberapa karya Mardiyanto, misalnya, material kayu, meskipun diperlakukan dengan cara yang sangat konvensional, ia dibebani muatan representatif, menggambarkan unsur alam di dalam mengartikulasikan tema lingkungan. Demikian pula karya Khusna yang menggunakan sendok stainless steel, seperti menegaskan kembali peran barang-barang industri di dalam kehidupan keseharian kita, hingga yang paling dasar. Di dalam karya Lutse Lambert, bentuk yang ditampilkan lebih merupakan sarana di dalam upayanya melakukan eksplorasi atas benda-benda bekas, dalam hal ini berupa komponen mekanik dari berbagai macam jam dalam berbagai ukuran sebagai material utama karya-karyanya.

Usaha untuk mendekonstruksi stereotip di dalam penggunaan material bisa ditemui pada pemanfaatan material yang tidak lazim di dalam praktek seni patung pada karya-karya Badari, David Armi dan Karyadhi. Badari dengan balonnya menggunakan udara yang mengisi ruang sebagai material utama. Sedangkan David Armi membangun patungnya dengan bahan karton, sedangkan Karyadhi merakit sedotan minuman (drinking straw) menjadi miniatur shopping trolley. Mereka melakukan pengingkaran dan konvensi terhadap pemahaman selama ini bahwa patung selalu massif, berat dan permanen. Mereka juga menegaskan bahwa material-material remeh – temeh ini tidak ada bedanya dengan bronze, marmer atau material berharga lainnya di dalam penciptaan karya patung.

Pameran ini dimaksudkan sebagai showcase, yang diharapkan dapat menyajikan gejala perkembangan praktek penciptaan seni patung saat ini, khususnya oleh para seniman muda di Jogja.

Anusapati
Jogja, Juli 2008