Hidup sederhana di pinggiran Yogyakarta, Agus Baqul Purnomo sering tergiur oleh kerlap-kerlip cahaya baru di kota. Perhatiannya memang kerap tergiring menuju kerumunan orang. Menonton orang lewat adalah salah satu hobinya, dan keramaian khalayak dari segala umur dan profesi yang terpikat daya tarik pusat-pusat perbelanjaan merupakan sumber hiburan.
Pada tanggal 28 Februari 2007, Agus mengajak istrinya, Ratna, beserta putra semata wayang mereka, Daffa, jalan-jalan ke Ambarukmo Plaza. Mereka belanja di Carrefour dan membeli persediaan rumah tangga seperti bahan makanan, minyak goreng, sabun, syampo dan pampers. Setelah pulang ke rumah, istrinya yang jeli memeriksa bon belanja – Agus agak tergesa membayarnya sebab supermarket itu hampir tutup – dan menyadari bahwa mereka telah membayar dua kali untuk sejumlah barang yang mereka beli.
Kembali ke tempat peristiwa tersebut keesokan harinya, mereka tidak bisa mendapat uang mereka kembali sebab dianggap tidak bisa membuktikan bahwa mereka tidak membeli semua barang yang tertera ganda di bon tersebut. Agus menjadi lebih frustasi lagi ketika menyadari bahwa ia hanya satu di antara sekian banyak orang yang mengalami hal yang sama. Maka ia melakukan apa yang dilakukan seniman ketika frustasi dan perlu pelepasan: Ia pergi ke studio dan meraih kuasnya untuk melukis.
Inilah awal Akhir Bulan yang Bodoh, karya abstrak Agus pertama yang murni bermotif angka. Dengan melampiaskan rasa frustasinya melukis angka-angka pada kanvas berulang-ulang, berlapis-lapis, Agus mengenyahkan suatu rasa kehilangan. Bukan hanya kehilangan beberapa puluh ribu rupiah, tapi juga kehilangan kesiapan untuk senantiasa percaya pada kebaikan orang serta kehilangan ke‘siapa’an – ke‘aku’an, keutuhan pribadi – yang merupakan azas rasa kemanusiaannya. Ia hanya satu di antara sekian.
“Kita semata menjadi angka,” Agus menghela nafas. Kami sedang menanti santap siang di Leha-Leha, rumah makan yang menyajikan Kepiting Gemez pilihan kami, tak jauh dari studionya pada bulan Maret 2008. Sudah setahun lebih ia mengeksplorasi angka dalam lukisan abstrak. “Bahkan kerja keras kita bisa dianggap upaya mendapat angka… supaya bisa membeli angka lain. Membeli pulsa HP, misalnya. Apa yang kita peroleh dengan membayar uang selain sederet angka?”
Ada benarnya ucapan Agus. Setiap anak yang lahir kini memperoleh nomer akte kelahiran. Manakala beranjak dewasa, kita diidentifikasi dengan nomer KTP atau SIM. Dan kita kembali didata menjadi sederet huruf dan angka bila perlu paspor untuk bepergian ke luar negeri. Perusahaan taxi, telemarketing, atau layanan antar pizza mengingat kita berdasarkan nomer telepon atau nomer pelanggan. Institusi perbankan yang dipercaya menjaga hasil jerih payah bekerja mengenal kita berdasarkan nomer rekening. Jati diri kita yang begitu majemuk direduksi menjadi sederet angka untuk kelancaran mengindeks dan mereferensikan biodata serta informasi selera dan pilihan pribadi kita.
Di skala lebih besar, perkembangan teknologi telah mengantar kita pada era digital. Kata-kata, citra, suara dan tekstur serta wujud tiga-dimensi kini direkam secara digital. Segenap buku perpustakaan kini hadir di ranah maya, tereduksi sebagai kode-kode digital: sekawanan angka nol dan satu yang tumbuh berkembang secara eksponensial. Ini mengubah bagaimana cara dan tingkat kecepatan manusia mengumpulkan informasi. Ini mengubah bagaimana kita mencermati dunia.
Kita tidak bisa lagi hidup tanpa angka, namun mestikah kita menjelmanya? Bagaimana menilai apa yang lebih penting kala menghadapi perpaduan informasi dan pilihan yang nampak tak berhingga? Ini beberapa dari sekian pertanyaan yang terpancing oleh karya Agus Baqul. Pertanyaan ini retorika, sebab komposisi acak angka-angka yang ditumpahkan sang seniman di sekujur bidang kanvas menciptakan sesuatu yang lain: Keindahan. Sesuatu yang mengantar pada pemaknaan.
Rupanya kita tak bisa menghindar dari hisapan pusaran tak berhingga angka-angka. Yang bisa kita lakukan adalah ikut serta memaknai serta mengarahkannya.
Lahir di Kendal, Jawa Tengah tahun 1975, Agus Purnomo lulus dari ISI Yogyakarta dan telah berpameran di berbagai even di Indonesia serta di AS, Taiwan, Malaysia dan Yunani. Di awal masa karirnya, ia lebih dikenal dengan karya-karya figuratif bertema sosial-politik. Ia memulai eksplorasi lukisan abstrak pada tahun 1999. Teknik khas yang telah ia kembangkan, yang makin kuat dari tahun ke tahun, adalah cara memberi ilusi gerak. Teknik yang bernuansa impresionis ini memberi hidup pada kanvas-kanvas Agus. Salam hormatnya pada tokoh impresionis Vincent van Gogh ia sampaikan dengan membuat versi abstrak angka lukisan Starry Nights.
Seperti yang nampak pada lukisan Number Series (Seri Angka) Agus, eksplorasi awalnya merupakan ekspresi gerak dan ritme. Ini lalu diperluas dengan memakai angka sebagai elemen acak dalam menciptakan pencitraan alam seperti seri Mawar Perempuan, Bumi, Gunung Biru, dst. beserta daya dan peristiwa alam seperti pada seri Angin dan Big Bang.
Guna mendalami pemaknaan angka, Agus membaca buku Khazanah Orang Besar Islam: dari Penakluk Yerusalem sampai Angka Nol. Di buku tersebut ia berkenalan dengan ilmuwan Persia abad ke-9, Mohamad bin Musa al Khawarizmi, yang dikenal sebagai ‘ayah’ ilmu Aljabar berkat bukunya, Kitab al-Jabr, yang menjadi acuan ilmuwan Eropa. Pentingnya penemuan angka nol menggugahnya untuk menciptakan seri lukisan 0, 0, 0.
Konsep angka nol dalam khazanah ilmu matematika modern berasal dari kata Arab safira (itu kosong) atau sifr (nol, atau kosong) yang dipakai sebai terjemahan kata Sansekerta śūnya yang berarti kosong atau hampa.
Ilmu angka merupakan alat, sarana untuk mencapai sesuatu. Agus memakai angka untuk mengingatkan kita pada keindahan dan estetika, salah satu ciri khas kemanusiaan. Di Eropa, ketika desimal nol Hindu dan matematika baru yang dimungkinkan olehnya menyebar dari dunia Arab, kata-kata yang memiliki akar kata sifr (seperti cypher yang berarti kode atau kunci rahasia) merujuk bukan hanya pada perhitungan, tapi juga pada pengetahuan yang diluhurkan.
Menyibak tabir sejarah lebih lanjut, dapat ditemukan bahwa rumusan tentang angka nol pertama kali dituliskan dalam kitab Brahmasputha Siddhanta (Pembukaan Dunia) yang ditulis Brahmagupta tahun 628. Dalam bukunya yang menyinggung penciptaan dunia, Brahmagupta membeberkan bukan hanya angka nol, tapi juga angka negatif, serta aturan aljabar untuk operasi aritmatika dasar dengan angka-angka tersebut.
Ketertarikan Agus serta pecandu Togel dan peramal pada angka hadir pula di kalangan seniman dan sastrawan kontemporer. Dalam novel terbarunya, Bilangan Fu, Ayu Utami menyuguhkan angka baru yang memiliki khaedah nol dan satu sekaligus. Karakter novel tersebut memakai bilangan Fu untuk mengkritik agama-agama monoteisme atas kefanatikan mereka terhadap angka satu. Ia mengajukan fakta bahwa agama-agama Ibrahim terlahir sebelum angka nol dirumuskan, dan berargumentasi bahwa di era posmodern, pemahaman tentang Yang Kuasa tak lengkap tanpa mengapresiasi filsafat nilai nol.
“Melukis itu main-main”, kata Agus. Bagi seniman ini, proses membubuhkan lapis demi lapis detil merupakan olah ritme gerak sekaligus main-main dengan warna. Keramaian yang ia tumpahkan pada kanvas adalah proses mengosongkan unek-unek pikiran. Melihat hasilnya, kita tak bisa menyangkal bahwa nilai keseluruhan yang utuh jauh lebih besar daripada nilai bagian-bagian yang tergurat pada kanvas. Dengan kata lain, Agus berhasil menetralisir pengalaman reduksinya. Ia menyuguhkan proses penciptaan, terutama dalam seri Big Bang.
Awal semesta adalah kehampaan. Angka nol, yang dirumuskan dari konsep Buddha Mahayana Śūnyatā (kekosongan atau kehampaan), mengandung potensi segala awal yang tak berhingga. Pemahaman Śūnyatā mengarah pada kenyataan bahwa tiada suatupun yang memiliki jati diri pasti atau langgeng dalam hidup ini. Segalanya terjalin hubungan saling ketergantungan. Semua senantiasa dalam kondisi perubahan. Energi dan informasi selamanya mengalir di seantero dunia, menyulut transformasi dan berevolusi seiring waktu. Vortex menggambarkan daya hisap dan penguraian materi menjadi energi yang terjadi dalam lubang hitam jagat raya – proses yang berlawanan dengan pemwujudan materi dari energi yang terjadi dalam Big Bang.
Dua ribu tahun belakangan ini, ilmu angka telah terbersit dari filsafat-filsafat kuno. Tak banyak filsafat yang sebaliknya terbersit dari ilmu angka. Kini seni memainkan peran menyeimbangkan ketimpangan ini dengan memantik potensi filsafat dan ilmu angka untuk mengompori imajinasi.
Agus berbagi pengalaman memabukkan dalam pameran Pusaran 8 ini. Perwujudan 8 di sini merujuk pada lambang tak berhingga yang dirotasi sembilanpuluh derajat, menegakkan kenyataan tentang potensi tak terbatas yang hadir dalam seni untuk memproses pengalaman baik maupun buruk menjadi daya kreasi. Setiap karya dalam pameran ini menawarkan jendela persepsi pada dunia. Elemen visual direduksi menjadi angka-angka dasar, namun keutuhannya mewujudkan mikrokosmos abstrak nan cantik yang merayu kita untuk mereka-reka ulang dan menelisik kembali makrokosmos tempat kita hadir.